Bahaya Menuruti Hawa Nafsu
Khutbah Jumat Singkat: Bahaya Menuruti Hawa Nafsu ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 12 Jumadil Awal 1448 H / 23 Oktober 2026 M.
Khutbah Jumat Pertama: Bahaya Menuruti Hawa Nafsu
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya sehingga tidak bisa melihat kebenaran? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk sesudah Allah? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah [45]: 23)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk diikuti dan mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk ditaati. Namun, ketika seseorang selalu menuruti hawa nafsunya, ia akan sangat sulit menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Jihad Melawan Diri Sendiri
Perjuangan terberat dalam hidup ini adalah melawan hawa nafsu diri sendiri. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutnya sebagai jihad yang mendasar.
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad itu adalah orang yang memperjuangkan dirinya untuk menaati Allah.” (HR. Tirmidzi)
Hawa nafsu sering kali membuat seseorang lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena hawa nafsu selalu menginginkan kesenangan syahwat. Keadaan ini makin berat karena kehidupan saat ini penuh dengan media dan hiburan yang melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan berpaling dari-Nya. Padahal, melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat membahayakan diri sendiri.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)
Banyak orang lebih asyik mengikuti hiburan, berita viral, dan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat karena sesuai dengan hawa nafsu. Akibatnya, seseorang menjadi makin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hatinya dipenuhi cinta dunia. Ketika cinta dunia memenuhi ruang hati, cinta akhirat pun sedikit demi sedikit akan sirna.
Menjadi Hamba Akhirat
Ali bin Abi Thalib mengingatkan bahwa dunia pasti akan pergi meninggalkan manusia, sedangkan akhirat pasti akan datang. Oleh karena itu, hendaknya manusia menjadi hamba akhirat dan tidak menjadi hamba dunia.
Menjadi hamba akhirat merupakan hal yang sangat berat. Ketika hati lebih asyik menuruti keinginan syahwat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut rasa cinta akhirat dari dalam hati. Hal tersebut sangat membahayakan diri. Kehidupan dunia hanyalah sementara dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan manusia hidup di dunia demi kehidupan akhirat. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.
Kewajiban setiap muslim adalah memikirkan kebaikan akhiratnya. Sungguh berbahagia seorang hamba yang memahami hakikat ini, lalu melawan hawa nafsunya demi menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia berusaha menyesuaikan hawa nafsunya dengan apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Lihat: Hadits Arbain Ke 41 – Kesempurnaan Iman
Khutbah Jumat Kedua: Kewajiban Mengikuti Petunjuk Allah dan Rasul-Nya
Dalam beragama, umat Islam tidak diperkenankan mengikuti keinginan atau pendapat diri sendiri. Kewajiban yang utama adalah mengikuti ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena itulah jalan terbaik yang telah Allah tetapkan. Apa yang dipandang baik oleh manusia belum tentu baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
…وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Maka manusia yang paling sesat di dunia adalah orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya sendiri.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ
“Tidak ada orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” (QS. Al-Qasas [28]: 50)
Download mp3 Khutbah Jumat: Bahaya Menuruti Hawa Nafsu
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Bahaya Menuruti Hawa Nafsu” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56655-bahaya-menuruti-hawa-nafsu/